Selasa, 14 Desember 2010

Brand



Sumber :

http://studiografiko.files.wordpress.com/2008/03/logoblinkcom-the-brand-alphabet.gif?w=468&h=390

Ini Adalah Dunia Merek yang Baru

IT’S a new brand world.Kita sedang hidup di sebuah masa yang mengganggap merek sangat penting. Merek selalu berada di sekitar kita dan sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Sayangnya usaha kecil dan menengah (UKM) kehilangan kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya merek karena hal-hal yang berkaitan dengan merek merupakan sesuatu yang rumit bagi mereka. Banyak UKM merasa sangat sulit untuk membangun citra merek dari produk mereka masing-masing.Mereka beralasan, sebagian besar pasar dunia dan jenis produk di pasar otomatis sudah dikuasai oleh merek-merek ternama di dunia.

Pemikiran ini sering membuat mereka ragu untuk melakukan terobosan dalam membangun citra mereknya.UKM melihat hal tersebut sebagai upaya dengan biaya yang sangat besar. Merujuk pada aspek fungsional, upaya membangun citra merek berarti membuat produk Anda diinginkan secara konsisten oleh sebanyak mungkin pelanggan potensial dengan cara mengerahkan segala energi, waktu, dan uang dengan efektif.

Sementara itu, merujuk pada aspek emosional, upaya membangun citra merek berarti membangun hubungan antarperusahaan, atau antarproduk dan jasa keduanya dengan para pelangan. Perusahaan-perusahaan besar memahami pentingnya memadukan dan menciptakan merek andal dari aspek fungsional ke aspek emosional. Kita semua tentu sudah mendengar istilah 4P dalam pemasaran, yaitu product (produk), price (harga), promotion (promosi) dan place (tempat).

Ini masih sedikit mudah.Namun, apa saja yang termasuk dalam 4P? Banyak para pebisnis yang lupa bahwa manusia tidak membeli sebuah produk dalam harga tertentu atau dipengaruhi oleh iklan, promosi, dan toko retail. Upaya membangun citra merek dalam jangka panjang memerlukan identifikasi dan manajemen yang efisien dari segi promise (janji), positioning (penempatan) dan personality (kepribadian).Ketiga istilah ini merupakan pilar untuk semua produk, pengemasan dan strategi komunikasinya. Seringkali ketiganya justru datang dari P yang keempat, yaitu people (orang).Lantas apa yang dimaksud dengan empat P yang baru ini?

P1, Brand Promise

Brand promiseadalah nilai janji yang terletak di antara keinginan para pelanggan, pemenuhannya oleh perusahaan dan perbedaan dalam sebuah pasar yang bersaing. Sederhananya, merek adalah sebuah janji terhadap suatu harapan yang menunggu untuk dipenuhi. ”Ponds Age Miracle”menjanjikan penggunanya dapat melihat hasil pemakaiannya hanya dalam tujuh hari.

Jika itu adalah janji yang ditawarkan merek mereka, lebih baik segera dibuktikan dengan didukung teknologi yang memang dapat dibuktikan kebenarannya. Terdengar mudah,namun tidaklah mudah untuk menciptakan sebuah janji dalam merek Anda yang bisa dijaga konsistensinya. Lalu, apa janji dari merek Anda?

P2, Brand Positioning

Brand positioning adalah keseluruhan gagasan Anda dan pelanggan Anda mengenai suatu produk atau jasa yang dipelajari melalui interaksi, pengalaman, dan komunikasi. Singkatnya, di mana Anda menempatkan merek Anda dengan strategi yang terbaik untuk menentukan apa saja yang perlu diketahui oleh sebuah perusahaan? Emosi seperti apa yang diperlukan untuk membangkitkan citra sebuah merek? Posisi merek Anda merupakan pertaruhan reputasi perusahaan Anda.

Dan percayalah, setiap perusahaan memiliki reputasinya sendiri,baik, atau buruk, yang menunjukkan sejauh mana kesadaran Anda dalam mengelola brand position. Sama seperti ketika saya belajar bahwa Anda memiliki persepsi negatif terhadap saya, maka saya harus mengubah tingkah laku saya untuk mengubah persepsi Anda menjadi positif.Saya tidak dapat hanya mengatakan bahwa saya sudah berubah dan percayalah pada saya. Saya harus membuktikannya dan itulah cara mengelola kesan tentang saya.

P3, Brand Personality

Brand personality adalah kumpulan karakteristik manusia yang terkait dengan sebuah merek.Dari sudut pandang konsumen, brand personality adalah cara untuk mengekspresikan kepribadian dan menentukan gaya hidup melalui sesuatu yang mereka miliki.Dengan kata lain, brand personality memiliki dua elemen, yaitu keinginan perusahaan Anda mengenai apa yang akan dirasakan dan dipikirkan oleh pelanggan mengenai merek Anda, dan apa yang pelanggan rasakan dan pikirkan terhadap merek Anda. Semakin dekat brand personality Anda dengan kepribadian konsumen Anda atau dengan sesuatu yang mereka kagumi dan cita-citakan, maka makin besar keinginan mereka untuk membeli produk Anda dan semakin dalam pula loyalitasnya.

P4, People Engagement

Sebuah merek yang kuat bergantung pada keterlibatan jangka panjang dengan mereka yang terlibat dengannya setiap hari. Kita tahu merek tidak dapat hidup dalam ruang hampa sehingga merek harus hidup dalam hati dan pikiran orang-orang yang terlibat di dalamnya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya,merek hanyalah sebuah hubungan yang sederhana jika tidak memotivasi para pekerjanya, bahkan menghancurkan mereka tanpa adanya pengertian dan tidak mau mendengar mereka.

Para karyawan perusahaan merupakan representasi merek secara riil. Jika mereka dilibatkan dan disemangati, mereka akan menciptakan suatu merek yang hidup dan mampu menciptakan interaksi yang berbeda terhadap para pelanggan dengan kreatif serta mampu menciptakan siklus yang tepat antara karyawan,konsumen, dan kinerja bisnis. (*)

DANIEL SURYA
Chairman South East Asia
DM-IDHOLLAND &
MARIO KHOE
Consultant DM-IDHOLLAND

Sumber :

http://economy.okezone.com/read/2010/10/09/23/380756/ini-adalah-dunia-merek-yang-baru

9 Oktober 2010




Mengibarkan Merek Berdarah Indonesia di Kancah Dunia

“Sebagian besar hambatan ada dalam diri kita, bukan berasal dari luar”.

Kalau diteropong di tingkat banyaknya penduduk di dunia, posisi 10 besar dipastikan nama Indonesia bakalan kesebut, karena setelah China, India, dan Amerika Serikat, Republik yang kita cintai ini menduduki posisi ke-4. Di Benua Asia, benua yang disebut-sebut akan mengalami lonjakan ekonomi di abad ini, posisi Indonesia bahkan nangkring di posisi 3 (238 juta) besar setelah China (1,332 milyar) dan India (1,153 milyar), data tahun 2008. Sayangnya, kedigdayaan di urusan jumlah penduduk belum diikuti kehebatan di urusan mengibarkan merek berlanggam Indonesia di kancah dunia bahkan kawasan Asia sekalipun. China telah memiliki Lenovo, setelah mengakuisisinya dari PC IMB. Sedangkan dari India, Bajaj (perusahaan otomotif) dan Grup Tata mulai dilirik pasar internasional. Bagaimana dengan perusahaan dan merek Indonesia?

Agar merek bernuansa “Indonesia” mampu berkibar di pasar global, tentu saja, Republik ini harus mampu mencetak sebanyak-banyaknya perusahaan yang berorientasi ekspor. Untuk benchmarking, rata-rata perusahaan Jepang yang merajai ekspor dunia dengan mendominasi sektor industri otomotif yang dikomandani Honda dan Toyota dan sektor elektronik yang dipimpin Sony, perusahaan Jerman mencengkeram kuat di kelas otomotif kelas wahid seperti duo BMW dan Mercedez Benz. Amerika Serikat secara terang-terangan mengekspor pop culture melalui bisnis hiburan (film) dan musik. Bagaimana dengan kans Indonesia?

Kalau merunut data, tidak melihat kecenderungan trend bisnis yang menitik beratkan pada kepopuleran sebuah bisnis semata, sejatinya kans Republik ini untuk menelurkan produk-produk berorientasi ekspor sangatlah memungkinkan. Sektor manakah kans merek Indonesia berpeluang berkibar di kancah dunia itu? Sebuah sektor yang barangkali “tidak se-mengkilap” bila dibanding sektor informasi teknologi, komputer, industri otomotif yang kini seringkali menjadi primadona dibahas majalah-majalah bisnis dunia. Dialah, sektor agrobisnis dan pertambangan. Suka tidak suka, di bisnis berbasis sumber daya alam inilah, Negara ini punya strength points, setidaknya kalo ditilik dari SWOT analysis.

Mari kita kulik dan elaborasi fakta tersebut. Dari buku Globality: Competing with Everyone from Everywhere for Everything (2008). Penulis Harold L.Sirkin, James W.Hemerling dan Arindam K.Bhattacharya dalam penelitiannya mengambil sampel perusahaan-perusahaan Negara berkembang (delevoping countries), beliau menyatakan akan banyak perusahaan dunia berkembang yang mengambil alih kepemimpinan pasar global. Artinya merek-merek dan perusahaan nomer wahid dunia tidak hanya didominasi Negara-negara maju semata. Dari 100 perusahaan yang dijadikan sampel, hanya satu perusahaan yang dicomot dari Indonesia, yakni PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Sebuah perusahaan produsen mie instan berbasis tepung terigu yang notabene berbasis agrobisnis.

Fakta lain adalah komoditas agrobisnis dengan nilai ekspor tertinggi, dicomot dari BPS yang diolah Pusdatin Depdag (2008), produk Kelapa sawit (nilai ekspor 9.652,91 juta US$) yang sudah menyalip sang pemimpin pasar Malaysia, Kakao (nilai ekspor 829,92 juta US$), bahan dasar coklat, Kelapa (nilai ekspor 707,93 juta US$), Kopi (nilai ekspor 658,28 juta US$) merupakan adalan ekspor Indonesia, dimana banyak perusahaan Indonesia bermain dan menjelajah pasar ekspor. Bahkan, beberapa di antara mereka telah menjadi pemain utama di pasar internasional. Sebut satu saja, PT.Indesso Aroma (tidak banyak yang mengenal nama ini tentunya), merupakan pemain dunia di industri pewangi berbasis minyak cengkeh (flavor dan flagrance) dan turunannya. Dari 3.500 ton total produksi minyak cengkeh dunia, 2.500 ton-nya diproduksi dan dipasok oleh PT.Indesso. Padahal awal mulanya mereka hanya menyuling daun cengkeh yang berjatuhan di kota Purwokerto, Jawa Tengah. Mengagumkan !!

Kebetulan majalah SWA pernah mengulas beberapa perusahaan-perusahaan Indonesia yang sukses “menembus” barikade-barikade negara-negara tujuan ekspor yang terkadang quality control-nya cukup rigid, belum lagi rambu-rambu non tarif yang dipasang untuk “memproteksi” produk domestik mereka. Tetapi mereka dengan gigih (tidak mengumbar kecengengan seperti sinetron dan reality show di TV yang sekarang bertaburan) dan tetap setia di core competence-nya, tidak tergiur untuk “pindah ke lain hati”. Mereka bertarung di pasar global, yang pastinya diperebutkan banyak pemain kelas kakap dunia. Dengan kejelian berinovasi dan kegigihan untuk tetap setia di core competence-nya (kompetisi inti), mereka berhasil mengibarkan mereknya di panggung global. Salah satunya PT.Indesso, yang saya sebut di atas.

Sudah saatnya kita kembali kepada titik kekuatan yang kita miliki. Jangan sampai ada cerita lagi, seorang petani menjual lahannya dan melegonya menjadi sebuah sepeda motor, karena ingin menjadikannya ojek. Karena uang dari hasil bumi tidak bisa menutupi kehidupan sehari-harinya. Pasti ada yang salah dari fenomena yang “menyayat hati” itu. Sebingung mengapa kita sebagai salah satu produsen kopi dunia, tetapi toko-toko kopi yang ramai dan enak itu dimiliki Negara lain.

Saatnya berbenah…..kita pasti bisa !! Aku merindukan suatu saat aku menyeduh dan menyeruput kopi made in Indonesia di suatu sudut cafĂ© di New York atau di kawasan Chiyoda-ku, daerah elit deket istana milik kaisar Jepang di down town Tokyo. Pasti nuansa rasanya lebih mak nyuuss di lidah……..We love Indonesia full.



Sumber :

Donny Oktavian Syah

http://manuverbisnis.wordpress.com



Inilah 10 Merek Mobil Paling Berharga 2010

BMW akhirnya mengambil alih posisi Toyota sebagai merek mobil paling berharga di dunia. Sementara Ford dan Volkswagen berhasil meningkatkan nilai mereknya, kendati berada di luar BrandZ Top 100 dalam penilaian tahunan perusahaan riset pasar Millward Brown.

Direktur global Millward Brown Peter Walshe mengatakan penurunan nilai Toyota dipengaruhi krisis recall besar-besaran yang terjadi menjelang akhir 2009.

“Toyota mengalami penderitaan dalam beberapa bulan terakhir. Akan tetapi merek ini tetap kuat karena usaha kerasnya melakukan kampanye recall,” kata Brown. “Kami memiliki bukti bahwa merek yang kuat akan mudah mengembalikan reputasi.”

BMW sendiri mengalami 9 persen penurunan nilai, menjadi 21,8 miliar dollar AS dibandingkan peringkat 2009. Sedangkan hasil penilitian terhadap Toyota didapat kemerosotan 27 persen, sehingga menjadi di bawah 21,8 miliar dollar AS.

Ford yang meraih nilai 7,04 miliar dollar AS atau meningkat 19 persen, dikatakan terbantu oleh berita investasi besar untuk pengembangan teknologi dan efisiensi. Adapun Volkswagen yang berada sedikit di bawah 7 miliar dollar AS meningkatkan nilainya hingga 20 persen.

“Studi kami memperlihatkan bahwa konsumen sangat tertarik dengan isu investasi teknologi,” ucap Brown. “Merek-merek Jerman dipercaya mampu meningkatkan gaya pemakainya dan berkualitas.”

Secara keseluruhan penilaian Millward Brown pada tahun ini menempatkan Google sebagai merek paling berharga di dunia (114 miliar dollar AS), diikuti IBM 86 miliar dollar AS dan Apple 83 miliar dollar AS. Sedangkan perusahaan otomotif yang masuk dalam peringkat 100 besar tercatat hanya enam merek.

Dalam penelitiannya Millward Brown melakukan pertanyaan terhadap 1 juta responden konsumen global, serta melakukan perhitungan finansial dan bisnis melalui data-data dari Bloomberg dan Datamonitor. [dp]

Peringkat Merek Mobil Paling Bernilai

Peringkat  -  Merek - (Miliar US$) 
1. BMW - (21,82)
2. Toyota  - (21,77)
3. Honda - (14,30)
4. Mercedes-Benz  - (13,74)
5. Porsche -  (12,02)
6. Nissan  - (8,61)
7. Ford  - (7,04)
8. Volkswagen - (6,99)
9. Audi - (3,62)
10. Renault - (3,26)


Sumber :

http://www.dapurpacu.com/inilah-10-merek-mobil-paling-berharga-2010/

29 April 2010




Nilai Tambah Produk Lewat Merek

Ada orang bilang “Apalah arti sebuah Nama?” Seolah-olah nama merupakan sesuatu yang bersifat simbol semata. Begitu pula dengan sebuah produk, Merek merupakan nama untuk sebuah produk.
Dari segi pengertian merek merupakan identifikasi dari sebuah barang atau jasa yang dijual atau diproduksi oleh orang atau kelompok tertentu. Dengan merek dapat dibedakan kualitas, jenis dan identitas lain masing-masing produk.

Sebagian Kelompok Usaha Kecil menganggap bahwa merek hanya perlu untuk produk-produk yang dimiliki oleh perusahaan besar saja, sedang untuk kelompok Usaha Kecil tidaklah penting sebuah merek. Selain itu ada kekhawatiran dengan menggunakan merek tertentu akan menyebabkan pengeluaran untuk pajak membengkak. Pemikiran-pemikiran semacam ini semestinya perlu ditinjau ulang, karena dengan menciptakan sebuah merek untuk produknya akan menjadi kunci sukses bisnis usaha kecil dalam memasarkan hasil-hasil produksinya.

Kondisi selama ini konsen pemerintah maupun pihak usaha kecil dan menengah sendiri masih berkutat pada masalah permodalan. Pendampingan dan pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam hal upaya pembuatan merek sebuah produk masih dirasa kurang. Pengusaha Usaha Kecil dari luar negeri yang masuk ke Indonesia umumnya sudah memiliki merek yang cukup kuat, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Pada saat ini kalangan Usaha Kecil dan menengah sudah banyak dikelola oleh kelompok masyarakat terdidik dengan kesadaran membangun merek dan image produk yang baik. Kelompok terdidik ini umumnya yang tidak terserap bekerja pada industri besar yang kemudian berwiraswasta atau memang memiliki jiwa enterpreneur. Dengan demikian persaingan usaha kecil dan menengah tidak lagi berada pada lingkup sempit dan produk yang terbatas, tetapi sudah bersaing pada level kualitas dan image produk. Disinilah sesungguhnya merek memegang peran yang sangat strategis untuk mendiferensiasikan produk dengan pesaing.
Untuk itu, Dinas KUMKM Jawa Barat pada tahun 2010 memfasilitasi UMKM untuk mendapatkan merek. Menurut Kepala Dinas KUMKM Jawa Barat, Wawan Hernawan, anggapan merek itu mahal menjadi alasan sebagian besar UMKM untuk tidak menggunakan merek sendiri.

”Kebanyakan dari mereka justru lebih senang bila menggunakan merek yang sudah ngetop. Alasannya, peminatnya sudah banyak. Padahal dari sisi hukum jelas-jelas itu pelanggaran HAKI. Hal ini tentu saja ada konsekuensinya. Untuk itu saya berharap, para UMKM punya merek sendiri, yang bisa menjadi kebanggaan buat produknya,”ungkap Wawan pada Sosialisasi Hak Merek, di Aula Bung Hatta Jalan Soekarno Hatta Bandung, Rabu (17/3).

Merek memiliki peran penting sehingga produk yang dihasilkan diminati dan dikenl konsumen. Fungsi merek diantaranya merek membedakan produk dengan produk pesaing. Merek akan memberikan identifikasi bahwa sebuah berbeda dengan produk lainnya . Identifikasi produk juga bermanfaat dalam hal iklan dan promosi.
Selain itu, menambah nilai produk , Konsumen melihat merek sebagai sebuah tolok ukur dan menambah nilai sebuah produk. Merek bisa menambah image sebuah produk. Konsumen juga cenderung memilih produk yang bermerek karena lebih bisa dipercaya, asal-usul produk bisa diusut. Kebutuhan untuk mengelola merek akan lebih dirasakan oleh pengusaha Usaha Kecil yang akan membuka cabang.
Menimbang beberapa manfaat tersebut, salah satu kiat sukses membangun bisnis adalah dengan mengelola merek untuk produk-produk yang kita miliki. Produk yang baik akan lebih mudah dikenal jika memiliki merek tertentu.

Ada beberapa kiat bagi UMKM yang patut diperhatikan oleh UMKM dalam membuat merek diantaranya pilih merek yang mudah diingat, sederhana dan tidak terlalu panjang sehingga memudahkan konsumen menghafalnya dan mengucapkannya. Penggunaan merek yang menyerupai atau mendekati fungsi/ kegunaannya suatu produk akan memudahkan konsumen mengingatnya. Berpromosi dan beriklan secara terus menerus agar merek produk diingat terus.

Para UMKM juga harus diingat dalam mengajukan permohonan HKI khususnya, ada merek yang tidak dapat didaftarkan. Hal ini apabila merek tersebut mengandung unsur-unsur diantaranya permohonan yang diajukan beritikad tidak baik, bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum, tidak memiliki daya pembeda, tidak menjadi milik umum, merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftar.

Merek yang diajukan UMKM juga bisa ditolak Dirjen HKI bila memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek pihak lain yang sudah terdaftar untuk barang/jasa sejenis. Disamping memiliki persamaan pada pokonya atau keseluruhan dengan merek pihak lain yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang/jasa sejenis.

Merek ditolak apabila menyerupai nama orang terkenal, foto dan nama badan hokum yang dimiliki orang lain, kecuali atas persetujuan tertulis dari yang berhak. Merek tersebut merupakan tiruan atau menyerupai nama, singkatan nama, bendera, lambing atau symbol, emblem Negara, lembaga nasional, tanda atau cap atau stempel resmi yang digunakan oleh Negara atau lembaga pemerintah kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

Penghapusan dan pembatalan merek dapat dilakukan atas prakarsa Dirjen HKI, atas permohonan dari pemilik merek bersangkutan, atas putusan pengadilan berdasarkan gugatan penghapusan, tidak diperpanjang jangka wakttu pendaftaran mereknya oleh yang bersangkutan.
Manfaat HKI-Merek bagi KUMKM diantaranya sebagai asset berharga untuk memberikan daya dukung bagi pengembangan usaha KUMKM. Merek sebagai tameng pencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat dan menjadi pemicu peningkatan daya saing. Merek pula menjadi motor untuk peningkatan inovasi dan kreativitas. Merek sebagai alat untuk pencitraan image dari suatu produk.


Sumber :

http://diskumkm.jabarprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=120:nilai-tambah-produk-lewat-merek&catid=1:bewara&Itemid=65

30 April 2010



Memahami Gunung Es Merek

Dalam berbagai macam teknik pengukuran kekuatan merek berdasarkan persepsi konsumen, sudah pasti kekuatan merek yang kemudian didapatkan adalah sebuah indikator berdasarkan subyektivitas konsumen. Di dalam disiplin marketing, persepsi adalah realita. Tidak mengherankan, dua produk dengan kualitas yang sama, bisa dipersepsi berbeda oleh konsumennya. Bahkan untuk golongan bawah, gap antara persepsi dengan kenyataan ini bisa cukup besar.


Secara umum, pengukuran brand equity selalu melibatkan awareness dan asosiasi-asosiasi merek. Awareness dan asosiasi, adalah berdasarkan atas persepsi dan subyektivitas konsumen. Merek yang tinggi ekuitasnya adalah merek yang menancap kuat di benak konsumen serta memiliki asosiasi-asosiasi yang relevan, unik dan kuat.



Dengan melihat ilustrasi di atas, maka seolah-olah terjadi pembenaran perspektif jangka pendek dalam pengelolaan merek, yang merupakan salah satu kesalahan terbesar dalam membangun merek. Ini didukung juga oleh temuan dari riset Top Brand Index. Promosi dan iklan yang besar-besaran, ataupun strategi diskon harga dalam jangka pendek memang memiliki kemungkinan untuk meningkatkan Top Brand Index, tetapi tidak cukup untuk membangun merek dalam jangka panjang. Strategi-strategi tersebut bisa meningkatkan brand awareness ataupun penggunaan merek, tetapi mungkin tidak dapat menumbuhkan loyalitas konsumennya.


Salah satu penyebab dari hal ini adalah fenomena ‘gunung es’ merek. Bagian permukaan dari struktur merek adalah hal-hal yang dilihat oleh konsumen dan secara nyata mempengaruhi penilaian mereka terhadap suatu merek. Contohnya adalah simbol-simbol yang digunakan, nama merek, harga, kemasan, iklan, promosi dan lain-lain. Mengeksploitasi bagian ‘permukaan’ dari merek ini tanpa dukungan komponen lainnya pada jangka panjang dapat membahayakan kekuatan merek. Contohnya, strategi diskon yang membuat konsumen teredukasi untuk mendapatkan merek tersebut pada harga yang murah. Dengan demikian, tanpa dukungan efisiensi produksi ataupun cost leadership dari pengelola merek, pada akhirnya kekuatan merek akan melemah, karena tidak mampu lagi memberi diskon yang lebih besar.



Contoh lainnya adalah eksploitasi strategi iklan yang dapat menciptakan ekspektasi konsumen. Janji-janji yang dahsyat dalam iklan memang dapat mendorong preferensi dan perilaku konsumen. Tetapi hal ini akan meningkatkan ekspektasi konsumen secara signifikan. Jika merek tidak didukung oleh tim research & development, atau jika produk/jasa dirancang tanpa adanya riset pasar yang komprehensif, maka kepuasan dan loyalitas konsumen untuk tetap menggunakan produk/jasa ini di masa mendatang sudah pasti akan rendah. Dari hasil survei Top Brand yang telah berlangsung sejak tahun 2000, banyak merek-merek yang berhasil mendekati posisi Top Brand. Namun kemudian, sebelum mereka berhasil meraih predikat Top Brand, merek-merek tersebut terlebih dahulu melemah atau ‘hilang’ dari kategori produknya. Pengamatan saya menunjukkan bahwa merek-merek ini semata-mata hanya bermodalkan bagian ‘permukaan’ dari struktur merek.



Karena itu, untuk membangun merek yang top, disamping memperhatikan komponen-komponen merek yang secara nyata terlihat oleh konsumen, pengelola merek juga harus memperhatikan komponen-komponen yang tidak tampak secara langsung oleh konsumen. Dua diantaranya, yaitu R&D dan produktivitas. Di samping itu, terdapat komponen-komponen seperti kemampuan distribusi yang kuat, akses terhadap supplier yang kuat, kemampuan riset pasar yang komprehensif dan lain-lain. Perusahaan haruslah menciptakan kompetensi inti untuk mempertahankan kekuatan mereknya dalam jangka panjang.


Dengan adanya sinergi pengelolaan bagian ‘permukaan’ dan ‘dalam’ dari struktur merek ini, maka saya yakin bahwa merek memiliki peluang yang sangat kuat untuk menjadi Top. Dan jika merek sudah Top, maka kemungkinan merek lain untuk menggeser posisinya akan semakin kecil.


Sumber :

http://www.handiirawan.com/blogs/archives/2009/04/23/memahami_gunung_es_merek/

23 April 2009


Makan Merek Atau Pilih Kualitas?

Apa merek itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu arti merek adalah nama, simbol, gambar, huruf, kata, atau tanda lainnya yang digunakan oleh industri dan perusahaan dagang untuk memberi nama pd barang-barangnya dan membedakan diri dari yang lain, biasanya dilindungi oleh hukum. Namun dalam perkembangannya, merek seakan-akan menjadi suatu 'stempel' untuk mengelompokkan suatu komunitas. Bagaimana bisa?


Merek akhirnya menjadi suatu tanda kebonafidan suatu barang. Semakin tenar dan ternamanya suatu merek, (biasanya) semakin mahal pula barang itu, dan semakin tinggi pula prestige yang dihasilkan dengan memiliki barang tersebut. Inilah yang akhirnya menjadi dasar pengkategorian masyarakat, masyarakat tingkat bawah, tingkat menengah, ataupun tingkat atas alias jet set.

Merek-merek baju terkenal, misalnya Dior, Guess, ataupun Yves Saint Laurent, tidak hanya memberikan kenyamanan dalam pakaian rancangan mereka, namun juga meningkatkan kepercayaan diri karena nama mereka yang terkenal. Sebenarnya juga karena menunjukkan bahwa mereka memiliki banyak uang dengan membeli pakaian mahal semacam itu, dengan begitu bisa meningkatkan gengsi mereka.

Memang merek terkenal dijamin kualitasnya, namun apakah benar barang-barang yang tidak bermerek selalu kalah jauh soal kualitas?

Ada kalanya suatu barang memiliki kualitas yang cukup bisa dibanggakan namun dipandang sebelah mata karena tidak terlalu terkenal. Misalnya suatu merek jeans A sangat ternama sehingga harga yang bisa mencapai Rp2-3 juta langsung saja dibabat habis padahal masih ada merek jeans B yang memang tidak cukup ternama tapi menawarkan kualitas yang setara dengan harga 'miring.' Kenapa kita tidak lebih memilih menghemat untuk mendapatkan 'hal' yang setara daripada terus memikirkan tentang prestige?

Seperti prinsip ekonomi yang sangat terkenal karena telah diajarkan mulai dari bangku sekolah menengah, 'Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.' Itu juga bisa kita terapkan dalam hal ini. Tak usah melulu melihat merek, tapi tekankan juga kualitasnya.

Kalau bisa mendapat kualitas sama dengan harga lebih murah, kenapa tidak? (kpl/npy)


Sumber :

http://www.kapanlagi.com/a/old/makan-merek-atau-pilih-kualitas.html

19 November 2008